Site and learn your application

Jumat, 02 Mei 2014

Ramalan Jaya Baya Tentang Nusantara Dan Kehidupan

Indo Amaterasu
Ramalan Jaya Baya, siapa yang tidak kenal dengan ramanlan ini terutama yang berasah dari tanah Jawa. Saya juga merasa senang karena dilahrikan di Jawa Timur, yaitu Kab. Trenggalek yang merupakan wilayah satu karisedan Kediri. Ramalan Jaya Baya berasal dari kerajaan Kadiri sekarang kota Kediri, semenjak meninggalnya Raja Jayabaya yang tersisa hanyalah sebuah kitab Jaya Baya, kitab tersebut berisi ramalan Nusantara, baik itu masa depan Nusantara (Indonesia) dan tingkah laku manusia mendekati akhir zaman. Menurut buku sejarah yang Saya baca mengenai kerajaan Kadiri, Jaya Baya alah raja yang sangat sakti dan suka bertapa. Anehnya ketika Raja Jaya baya pergi, istana kerjaan dan peninggalan sejarah yang berhubungan dengan kerajaan Kadiri melebur menglilang bersama tanah.

Kitab Musasar Jayabaya :

Asmarandana
  1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
  2. Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
  3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.
  4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.
  5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
  6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.
  7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.
  8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.
  9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,
  10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
  11. Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.
  12. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
  13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu..
  14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
  15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
  16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.
  17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
  18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
  19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
  20. Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.
  21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.
Sinom
  1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.
  2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada zaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang zaman Catur semune segara asat.
  3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.
  4. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada zaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
  5. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada zaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.
  6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
  7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti zaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
  8. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.
  9. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti zaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
  10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
  11. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti zaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
  12. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti zaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
  13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
  14. Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.
  15. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
  16. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. zaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
  17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.
  18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
  19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
  20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti zaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).
  21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).
  22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
  23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
  24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
  25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
  26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
  27. Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
  28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
  29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.
Isi Ramalan
  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran - Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Tanah Jawa kalungan wesi -Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang - Perahu berjalan di angkasa.
  4. Kali ilang kedhunge - Sungai kehilangan mata air.
  5. Pasar ilang kumandhang - Pasar kehilangan suara.
  6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak - Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret - Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sekilan bumi dipajeki - Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Jaran doyan mangan sambel - Kuda suka makan sambal.
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang - Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman - Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik.
  12. Akeh janji ora ditetepi - Banyak janji tidak ditepati.
  13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe - Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah - Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi - Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
  16. Barang jahat diangkat-angkat - Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci - Yang suci (justru) dibenci.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit - Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lali kamanungsan - Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan - Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang - Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak - Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu - Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa - Menantang ayah.
  25. Sedulur padha cidra - Saudara dan saudara saling khianat.
  26. Kulawarga padha curiga - Keluarga saling curiga.
  27. Kanca dadi mungsuh  - Kawan menjadi lawan.
  28. Akeh manungsa lali asale  - Banyak orang lupa asal-usul.
  29. Ukuman Ratu ora adil  - Hukuman Raja tidak adil.
  30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil - Banyak pejabat jahat dan ganjil
  31. Akeh kelakuan sing ganjil  - Banyak ulah-tabiat ganjil
  32. Wong apik-apik padha kapencil - Orang yang baik justru tersisih.
  33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin -  Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
  34. Luwih utama ngapusi -  Lebih mengutamakan menipu.
  35. Wegah nyambut gawe -  Malas untuk bekerja.
  36. Kepingin urip mewah -  Inginnya hidup mewah.
  37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka -  Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  38. Wong bener thenger-thenger  - Orang (yang) benar termangu-mangu.
  39. Wong salah bungah - Orang (yang) salah gembira ria.
  40. Wong apik ditampik-tampik - Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
  41. Wong jahat munggah pangkat - Orang (yang) jahat naik pangkat.
  42. Wong agung kasinggung - Orang (yang) mulia dilecehkan
  43. Wong ala kapuja - Orang (yang) jahat dipuji-puji.
  44. Wong wadon ilang kawirangane - perempuan hilang malu.
  45. Wong lanang ilang kaprawirane - Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
  46. Akeh wong lanang ora duwe bojo - Banyak laki-laki tak mau beristri.
  47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone - Banyak perempuan ingkar pada suami.
  48. Akeh ibu padha ngedol anake - Banyak ibu menjual anak.
  49. Akeh wong wadon ngedol awake - Banyak perempuan menjual diri.
  50. Akeh wong ijol bebojo - Banyak orang gonta-ganti pasangan.
  51. Wong wadon nunggang jaran - Perempuan menunggang kuda.
  52. Wong lanang linggih plangki - Laki-laki naik tandu.
  53. Randha seuang loro - Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  54. Prawan seaga lima - Lima perawan lima picis.
  55. Dhudha pincang laku sembilan uang - Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Akeh wong ngedol ngelmu - Banyak orang berdagang ilmu.
  57. Akeh wong ngaku-aku - Banyak orang mengaku diri.
  58. Njabane putih njerone dhadhu - Di luar putih di dalam jingga.
  59. Ngakune suci, nanging sucine palsu - Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  60. Akeh bujuk akeh lojo - Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Akeh udan salah mangsa - Banyak hujan salah musim.
  62. Akeh prawan tuwa - Banyak perawan tua.
  63. Akeh randha nglairake anak - Banyak janda melahirkan bayi.
  64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne - Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  65. Agama akeh sing nantang - Agama banyak ditentang.
  66. Prikamanungsan saya ilang - Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Omah suci dibenci - Rumah suci dijauhi.
  68. Omah ala saya dipuja - Rumah maksiat makin dipuja.
  69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi - Perempuan lacur dimana-mana.
  70. Akeh laknat - Banyak kutukan.
  71. Akeh pengkianat - Banyak pengkhianat.
  72. Anak mangan bapak -Anak makan bapak.
  73. Sedulur mangan sedulur - Saudara makan saudara.
  74. Kanca dadi mungsuh - Kawan menjadi lawan.
  75. Guru disatru - Guru dimusuhi.
  76. Tangga padha curiga - Tetangga saling curiga.
  77. Kana-kene saya angkara murka  - Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  78. Sing weruh kebubuhan -Barangsiapa tahu terkena beban.
  79. Sing ora weruh ketutuh -Sedang yang tak tahu disalahkan.
  80. Besuk yen ana peperangan -Kelak jika terjadi perang.
  81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor -Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
  82. Akeh wong becik saya sengsara - Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Wong jahat saya seneng - Sedang yang jahat makin bahagia.
  84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul  - Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Wong salah dianggep bener -Orang salah dipandang benar.
  86. Pengkhianat nikmat -Pengkhianat nikmat.
  87. Durjana saya sempurna - Durjana semakin sempurna.
  88. Wong jahat munggah pangkat - Orang jahat naik pangkat.
  89. Wong lugu kebelenggu - Orang yang lugu dibelenggu.
  90. Wong mulya dikunjara - Orang yang mulia dipenjara.
  91. Sing curang garang - Yang curang berkuasa.
  92. Sing jujur kojur - Yang jujur sengsara.
  93. Pedagang akeh sing keplarang - Pedagang banyak yang tenggelam.
  94. Wong main akeh sing ndadi -Penjudi banyak merajalela.
  95. Akeh barang haram -Banyak barang haram.
  96. Akeh anak haram -Banyak anak haram.
  97. Wong wadon nglamar wong lanang -Perempuan melamar laki-laki.
  98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe - Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  99. Akeh barang-barang mlebu luang -Banyak barang terbuang-buang.
  100. Akeh wong kaliren lan wuda -Banyak orang lapar dan telanjang.
  101. Wong tuku ngglenik sing dodol -Pembeli membujuk penjual.
  102. Sing dodol akal okol -Si penjual bermain siasat.
  103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri -Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
  104. Sing kebat kliwat -Yang tangkas lepas.
  105. Sing telah sambat -Yang terlanjur menggerutu.
  106. Sing gedhe kesasar -Yang besar tersasar.
  107. Sing cilik kepleset -Yang kecil terpeleset.
  108. Sing anggak ketunggak -Yang congkak terbentur.
  109. Sing wedi mati -Yang takut mati.
  110. Sing nekat mbrekat  -Yang nekat mendapat berkat.
  111. Sing jerih ketindhih -Yang hati kecil tertindih.
  112. Sing ngawur makmur -Yang ngawur makmur.
  113. Sing ngati-ati ngrintih -Yang berhati-hati merintih.
  114. Sing ngedan keduman -Yang main gila menerima bagian.
  115. Sing waras nggagas -Yang sehat pikiran berpikir.
  116. Wong tani ditaleni -Orang (yang) bertani diikat.
  117. Wong dora ura-ura -Orang (yang) bohong berdendang.
  118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane -Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
  119. Bupati dadi rakyat -Pegawai tinggi menjadi rakyat.
  120. Wong cilik dadi priyayi -Rakyat kecil jadi priyayi.
  121. Sing mendele dadi gedhe -Yang curang jadi besar.
  122. Sing jujur kojur -Yang jujur celaka.
  123. Akeh omah ing ndhuwur jaran -Banyak rumah di punggung kuda.
  124. Wong mangan wong -Orang makan sesamanya.
  125. Anak lali bapak -Anak lupa bapa.
  126. Wong tuwa lali tuwane -Orang tua lupa ketuaan mereka.
  127. Pedagang adol barang saya laris -Jualan pedagang semakin laris.
  128. Bandhane saya ludhes -Namun harta mereka makin habis.
  129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan -Banyak orang mati lapar di samping makanan.
  130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara -Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
  131. Sing edan bisa dandan -Yang gila bisa bersolek.
  132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong -Si bengkok membangun mahligai.
  133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil -Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
  134. Ana peperangan ing njero -Terjadi perang di dalam.
  135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham -Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
  136. Durjana saya ngambra-ambra -Kejahatan makin merajalela.
  137. Penjahat saya tambah -Penjahat makin banyak.
  138. Wong apik saya sengsara -Yang baik makin sengsara.
  139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan -Banyak orang mati karena perang.
  140. Kebingungan lan kobongan -Karena bingung dan kebakaran.
  141. Wong bener saya thenger-thenger -Si benar makin tertegun.
  142. Wong salah saya bungah-bungah -Si salah makin sorak sorai.
  143. Akeh bandha musna ora karuan lungane -Banyak harta hilang entah ke mana.
  144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe -Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
  145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram - Banyak barang haram, banyak anak haram.
  146. Bejane sing lali, bejane sing eling -Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
  147. Nanging sauntung-untunge sing lali -Tapi betapapun beruntung si lupa.
  148. Isih untung sing waspada -Masih lebih beruntung si waspada.
  149. Angkara murka saya ndadi -Angkara murka semakin menjadi.
  150. Kana-kene saya bingung -Di sana-sini makin bingung.
  151. Pedagang akeh alangane -Pedagang banyak rintangan.
  152. Akeh buruh nantang juragan -Banyak buruh melawan majikan.
  153. Juragan dadi umpan -Majikan menjadi umpan.
  154. Sing suwarane seru oleh pengaruh -Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
  155. Wong pinter diingar-ingar -Si pandai direcoki.
  156. Wong ala diuja -Si jahat dimanjakan.
  157. Wong ngerti mangan ati -Orang yang mengerti makan hati.
  158. Bandha dadi memala -Hartabenda menjadi penyakit.
  159. Pangkat dadi pemikat -Pangkat menjadi pemukau.
  160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang  - Yang sewenang-wenang merasa menang.
  161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah -Yang mengalah merasa serba salah.
  162. Ana Bupati saka wong sing asor imane - Ada raja berasal orang beriman rendah.
  163. Patihe kepala judhi - Maha menterinya benggol judi.
  164. Wong sing atine suci dibenci - Yang berhati suci dibenci.
  165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat - Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
  166. Pemerasan saya ndadra - Pemerasan merajalela.
  167. Maling lungguh wetenge mblenduk -  Pencuri duduk berperut gendut.
  168. Pitik angrem saduwure pikulan - Ayam mengeram di atas pikulan.
  169. Maling wani nantang sing duwe omah - Pencuri menantang si empunya rumah.
  170. Begal pada ndhugal- Penyamun semakin kurang ajar.
  171. Rampok padha keplok-keplok -  Perampok semua bersorak-sorai.
  172. Wong momong mitenah sing diemong- Si pengasuh memfitnah yang diasuh
  173. Wong jaga nyolong sing dijaga- Si penjaga mencuri yang dijaga.
  174. Wong njamin njaluk dijamin- Si penjamin minta dijamin.
  175. Akeh wong mendem donga- Banyak orang mabuk doa.
  176. Kana-kene rebutan unggul- Di mana-mana berebut menang.
  177. Angkara murka ngombro-ombro- Angkara murka menjadi-jadi.
  178. Agama ditantang- Agama ditantang.
  179. Akeh wong angkara murka- Banyak orang angkara murka.
  180. Nggedhekake duraka- Membesar-besarkan durhaka.
  181. Ukum agama dilanggar- Hukum agama dilanggar.
  182. Prikamanungsan di-iles-iles- Perikemanusiaan diinjak-injak.
  183. Kasusilan ditinggal- Tata susila diabaikan.
  184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi - Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
  185. Wong cilik akeh sing kepencil- Rakyat kecil banyak tersingkir.
  186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil -Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
  187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit -Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
  188. Lan duwe prajurit- Dan punya prajurit.
  189. Negarane ambane saprawolon -Lebar negeri seperdelapan dunia.
  190. Tukang mangan suap saya ndadra -Pemakan suap semakin merajalela.
  191. Wong jahat ditampa -Orang jahat diterima.
  192. Wong suci dibenci -Orang suci dibenci.
  193. Timah dianggep perak -Timah dianggap perak.
  194. Emas diarani tembaga -Emas dibilang tembaga.
  195. Dandang dikandakake kuntul -Gagak disebut bangau.
  196. Wong dosa sentosa -Orang berdosa sentosa.
  197. Wong cilik disalahake -Rakyat jelata dipersalahkan.
  198. Wong nganggur kesungkur -Si penganggur tersungkur.
  199. Wong sregep krungkep -Si tekun terjerembab.
  200. Wong nyengit kesengit -Orang busuk hati dibenci.
  201. Buruh mangluh -Buruh menangis.
  202. Wong sugih krasa wedi -Orang kaya ketakutan.
  203. Wong wedi dadi priyayi -Orang takut jadi priyayi.
  204. Senenge wong jahat -Berbahagialah si jahat.
  205. Susahe wong cilik -Bersusahlah rakyat kecil.
  206. Akeh wong dakwa dinakwa -Banyak orang saling tuduh.
  207. Tindake manungsa saya kuciwa -Ulah manusia semakin tercela.
  208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi -Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
  209. Wong Jawa kari separo - Orang Jawa tinggal setengah.
  210. Landa-Cina kari sejodho - Belanda-Cina tinggal sepasang.
  211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil -Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
  212. Sing eman ora keduman -Si hemat tidak mendapat bagian.
  213. Sing keduman ora eman -Yang mendapat bagian tidak berhemat.
  214. Akeh wong mbambung -Banyak orang berulah dungu.
  215. Akeh wong limbung -Banyak orang limbung.
  216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka -Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.
Tambahan 
Selain yang telah disebutkan di atas, Prabu Jayabaya pada akhirnya membagi zaman yang sudah, sedang dan akan terjadi nanti, khususnya di Nusantara. Lama waktunya yaitu 2.100 tahun matahari (1 tahun matahari = ±10,3 tahun kita sekarang). Ramalannya itu lalu menjadi Tri-takali, yaitu:
  1. Zaman permulaan disebut KALI-SWARA, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waktu itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa turun ke Bumi menjadi manusia.
  2. Zaman pertengahan disebut KALI-YOGA. Pada waktu ini banyak perubahan pada Bumi, Bumi belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yang mati banyak menjelma (nitis).
  3. Zaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Pada waktu ini banyak hujan salah mangsa (musim) dan banyak kali dan bengawan (sungai) bergeser, Bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.
Tiga zaman tersebut lalu masing-masingnya dibagi lagi menjadi Saptama-kala, artinya zaman kecil-kecil. Tiap zaman rata-rata berumur 100 tahun matahari (103 tahun bulan). Seperti berikut ini:

I. Jaman Kali Swara
  1. Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.
  2. Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang Jagadnata (Bhatara Guru).
  3. Kala-brawa (th. 201 – 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun ke bumi menyiarkan ilmu.
  4. Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.
  5. Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
  6. Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian-kesenian dsb.
  7. Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang-orang besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.
II. Jaman Kala Yoga
  1. Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.
  2. Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.
  3. Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.
  4. Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.
  5. Kala-teteka (th. 1.101 – 1.200): Banyak orang datang dari negeri-negeri lain.
  6. Kala-wisesa (th. 1.201 – 1.300): Banyak orang yang terhukum.
  7. Kala-wisaya (th. 1.301 – 1.400): Banyak orang memfitnah.
III. Jaman Kala Sangara
  1. Kala-jangga (th. 1.401 – 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.
  2. Kala-sakti (th. 1.501 – 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.
  3. Kala-jaya (th. 1.601 – 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.
  4. Kala-bendu (th. 1.701 – 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan (zaman kita sekarang).
  5. Kala-suba (th. 1.801 – 1.900 ): Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
  6. Kala-sumbaga (th. 1.901 – 2.000): Banyak orang tersohor pandai dan hebat.
  7. Kala-surasa (th. 2.001 – 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.
Semoga hal ini lebih bisa menjadi perenungan untuk kita semua – khususnya pada point yang sudah ditebalkan hurufnya. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, tetapi agar kita semua bisa terus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jika seandainnya nanti zaman berganti, yang dimulai dengan bencana dahsyat, maka kita sudah siap. Tetapi jika tidak terjadi, tentunya tidak menjadi masalah, karena justru kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan mengikuti perintah Tuhan. Sehingga kehidupan pun akan menjadi lebih baik.

Penutup
Wahai saudaraku. Sebagai generasi penerus, kita sepatutnya bangga dengan kearifan yang telah dimiliki oleh bangsa ini, bahkan sejak ribuan tahun silam. Lihatlah! Dengan kemampuan yang lebih dan kewaskitaannya, leluhur kita bisa mengetahui masa depan – jauh setelah kehidupan mereka – dan mau membagikannya kepada kita dalam betuk wasiat. Ini bertujuan agar kita, anak cucuk mereka, tidak masuk ke dalam pola hidup yang semrawut (kacau balau) dan jauh dari aturan agama. Yang pada akhirnya menyengsarakan kehidupan kita sendiri.

Tetapi, sungguh sangat disayangkan, banyak dari kita, khususnya para pemimpin dan generasi muda sekarang, yang tidak lagi memperhatikan hal ini. Banyak dari kita yang justru tidak tahu atau menganggap apa yang pernah diwariskan oleh para leluhur kita itu hanya sebagai dongeng dan tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan ini. Padahal lihatlah, hampir semua yang telah mereka wasiatkan itu terbukti benar dan sangat mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

Untuk itu, marilah kita semua, khususnya para pemimpin dan generasi muda bangsa ini untuk kembali pada jati diri kita sendiri sebagai bangsa Nusantara. Mari kita menilai apa yang sudah diwasiatkan oleh para leluhur di atas sebagai bahan refleksi untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara kedepannya. Banggalah menjadi bagian dari bangsa yang dulunya sangat besar – bahkan pernah memimpin dunia – ini, dengan terus membangkitkan rasa percaya diri dan tidak terlalu gandrung dengan budaya bangsa lain. Paculah kemajuan bangsa dengan banyak berkarya dan tidak hanya menjadi masyarakat konsumtif, yang ujung-ujungnya jadi “sapi perahnya” bangsa lain. Karena kita ini hebat dan punya kebudayaan yang tinggi, yang dulunya pernah disegani di seluruh dunia.

Selain itu, cukupkanlah perilaku yang tidak lagi sesuai dengan norma agama dan norma susila yang berlaku. Karena itu adalah sumber utama kehancuran bangsa ini nanti. Azab Tuhan akan menghampiri kita, semua dari kita, jika hal ini tidak segera diperbaiki. Terlebih saat banyak dari kita yang tidak lagi peduli bahwa ada kehidupan setelah mati. Maka bangsa dan negeri tercinta ini akan benar-benar hilang ditelan bencana dan azab Tuhan dalam waktu dekat. Sebagaimana dulu, nenek moyang kita yang harus meninggalkan tanah air tercinta ini – ribuan tahun – demi menyelamatkan diri dari bencana dahsyat (azab Tuhan) yang terjadi.

Akhirnya, semoga tulisan ini bisa menambah pengetahuan sejarah bagi Anda sekalian, yang pada akhirnya tetap menjadikan Anda bangga sebagai bagian dari bangsa yang besar ini; Nusantara. Bagi yang setuju dan meyakininya, silahkan ikuti dan jadikan prediksi di atas sebagai acuan dalam kehidupan dan tentunya untuk bekal mempersiapkan diri dalam menghadapi sesuatu yang akan menggemparkan dunia nanti. Namun bagi yang tidak mempercayainya, silahkan tinggalkan dan tolong hargai siapa saja yang sudah percaya dengan wasiat leluhur ini. Karena setiap orang punya hak yang sama dalam meyakini dan berpendapat. Kita semua harus menghormati hal yang mendasar ini, karena kita pun manusia.

Semoga zaman segera berganti, dari zaman Kala Bendu menjadi Kala Suba. Karena disanalah akan ada kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan yang sesungguhnya. Bangsa kita pun akan bangkit kembali dan memimpin dunia. Sementara kita, semoga saja bisa menyaksikan dan ikut serta dalam menikmatinya.


0 komentar:

Poskan Komentar

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish