Site and learn your application

Minggu, 13 Juli 2014

Guru SM3T Pulang Kampung Membawa Beban

Indo Amaterasu
Konflik Batin, Ketika Jadwal Kepulangan PPG SM3T Terpampang Di Papan Pengumuman.

Semua manusia pernah mengalami situasi hampa. Perasaan kosong itu lahir sejak sedari kecil. Contohnya, anak-anak kadang menyendiri ketika tak dibelikan permen, tidak mau makan kalau tak dirayu dengan uang. Seiring manusia kecil itu menjadi dewasa, emosi alami dalam hal kehapaan berevolusi dan semakin mewabah.

Manusia semakin sensitif. Hidup terkadang tak beda seperti lentera, cepat padam, istilah kerenya “rawan galau”. Hal ini diakibatkan eksitensial konsekuensi dari hakikat manusia itu sendiri. Terpatri oleh kebutuhan fana. Seperti riset Ahli psikologi bapak Abraham Maslow, Manusia memiliki beberapa tingkat kesejahteraan hidup, kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan dan kesehatan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Salah satu dari kebutuhan itu goyah (loose), hidup manusia seolah “pincang”. Lazimnya, terjadi konflik di ruang dimensi alam batin.

Peperangan antara keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Bisa juga, kegelisahan ketika menerima keadaan yang tak seirama dengan perasaan. Ketika Jadwal Kepulangan peserta gelombang pertama Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T) terpampang di papan pengumuman, betapa sorot mata terpusat dan melahirkan sensasi gejolak perasaan. Seolah mengancam pemenuhan dari lima esensi kebutuhan dasar manusia. Tidak heran akan ada pergumulan resah dari pihak yang merasa hampa.

Derita Bersama

Dengarkan Suara-suara berikut.

“Akhirnya, selesai juga program SM3T ini, terus, setelah itu, mengemis pekerjaan lagi dong ? Padahal, sebelum Ikut program ini, saya sudah memiliki pekerjaan”.

“Selesai PPG, bawa sertifikat tapi belum juga ada manfaatnya. Yah setelah ini, jadi tidak ada beda lagi sama sarjana2 lainya, tak mungkin saya honor, gaji hanya bisa membeli deterjen untuk bersihkan pakaian selama satu bulan”.

“Pulang nanti, kasihan Ibu saya, sudah setua itu masih merawat dan membiayai anak yg sudah sarjana dengan sertifikat yg belum ada manfaatnya. Biarlah, saya honor. Mungkin cuman itu harapan agar jadi PNS. Toh, penerimaan PNS pun harus mengikuti jalur seperti biasanya. Walau Saya Punya sertifikat, tidak jadi jaminan untuk di angkat”.

“Kemana lagi setelah ini, Ke papaua ? Ke Malaysia ? Tak jelas. Nyatanya, harus terima kepulangan ini dengan memegang sertifikat yang belum berfungsi”.

“Yah, tak lama lagi. Selesai program SM3T, tidak ada lagi makan gratis, pengobatan gratis, dan lebih sedih, sudah pasti nganggur ketika pulang kampung. Kalaupun dapat pekerjaan, guru honor tidak mungkin. Sekolah2 di kampung saya, penuh dengan guru honorer.”

“Dua Tahun kontrak, tidak boleh kawin. Rencana kawin tertunda. Program ini sudah menggagalkan hubungan saya dengan calon saya. Terlalu lama menunggu, malah dia kawin dengan orang lain. Mendapat pengganti di Asrama PPG, membaca kertas kepulangan itu, malah harus terpisah dengan dia. Andai program ini masih berlanjut, ada alasan untuk tetap terus bersamanya”.

“Setelah pulang, Kembali bergelut di bidang non guru. Proyek menanti di kampung. Tapi sialnya, untuk apa saya berlama2 kuliah ? tambahan sebagai Guru Profesional kalau tidak diberdayakan ? sama saja ! Koleksi dulu sertifikatnya J”.

“Malu pulang kampung. Keluarga dan lingkungan rumah terlalu yakin kalau setelah pulang dari sini saya akan segera di angkat PNS dan membawa perubahan berarti pada keluarga. Nyatanya, saya akan star dari awal seperti yang lain. Melangkah dengan harapan mendapat kemujuran. Cari kerja !”.

”Tak tahu lagi apa jadinya saya, sudah tua. Umur sudah kadaluarsa untuk ikut tes PNS di tahun yg akan datang. Padahal, saya pikir, selesai dari sini ada kemudahan untuk jadi PNS, yah terima saja. Umur tua bersertifikat, tapi belum di Angkat”

Begitu banyak anggaran dari Negara yang keluar demi membiayai peningkatan kualifikasi guru masa depan, sangat disayangkan kalau tidak diberdayakan.

Jangan salahkan mereka, pulang dengan didikan guru profesional tapi di kampung halaman, kerjanya karyawan toko dan pengolah bisnis lele.

0 komentar:

Poskan Komentar

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish