Site and learn your application

Minggu, 06 Juli 2014

Nasib SM-3T Angkatan Pertama Yang Masih Terlantar

Indo Amaterasu
SM-3T Satarmese Barat, Manggarai, NTT
Sejumlah Guru yang telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Kabupaten Manggarai, Rabu (2/7/2014) siang, datangi dinas PPO setempat untuk bertemu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO), Empang A. Adrianus, S.Sos.

Diduga sejumlah guru tersebut sengaja diterlantar oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. Kedatangan belasan guru lulusan program PPG tersebut bertujuan untuk meminta klarifikasi serta sikap pemerintah setempat terkait kejelasan nasib mereka yang hingga kini belum jelas.

Demikian hal itu disampaikan oleh Koordinator Alumni PPG Paska SM3T Kabupaten Manggarai, Richardus Suryanto N, kepada sejumlah awak media, Rabu siang di Ruteng usai bertemu Kadis PPO Kabupaten Manggarai.

Dikatakannya, Pihaknya telah menyampaikan harapan tertulis kepada Pemdakab Manggarai melalui dinas PPO setempat, terkait pemberdayaan para lulusan PPG paska SM3T, diantaranya; 1. Menempatkan guru lulusan PPG pada sekolah yang masih kekurangan tenaga pengajar di Manggarai. 2. Menindaklanjuti lulusan program PPG dengan cara, mengirim kembali lulusan PPG paska SM3T kesekolah-sekolah terpencil tertinggal di Manggarai. 3. Kaitannya seleksi masuk CPNS, terkait wacana kedepannya untuk keguruan wajib memiliki sertifikat keguruan, berdasarkan Permen No. 87 tahun 2013 tentang PPG. 4. Sistem perekrutan guru tenaga honorer atau THL harus melalui dinas PPO, karena mempermudah menyalurkan tenaga pengajar, sementara selama ini yang terjadi adalah otoritas pihak sekolah, sehingga diduga sistemnya tidak selektif dan transparan.

Menurutnya respon Kadis Empang, cukup baik, Ia berjanji akan melanjutkannya kepada Pemerintah Daerah (Bupati-Wakil Bupati) sebagai pengambil kebijakan. Seleksi PPG, dilakukan selama 2 tahun dan mengiktui pendidikan di 4 (Empat) LPTK, yaitu; Universitas Negeri Malang (UNM), Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) Bali, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Negeri Padang (UNPAD), jelasnya.

Program tersebut adalah program pemerintah pusat tahun 2011, melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) di Jakarta. Untuk Kabupaten Manggarai, yang mengikuti seleksi sebanyak 140 orang, namun yang lulus seleksi nasional berjumlah 90 orang.

“Kami seleksi PPG tahun 2011 melalui dinas PPO Kabupaten Manggarai dan mengikuti tes masuk di STKIP St. Paulus Ruteng dan Universitas Negeri Malang. Setelah lulus seleksi, selama setahun menjadi guru SM3T, lalu ditempatkan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Setelah menjalani program SM3T, maka pada tahun berikutnya, Pemerintah pusat membiayai untuk mengikuti program PPG selama setahun di UNM,” jelas Suryanto.

Sementara itu, Sekretaris Alumni PPG paska SM3T Kabupaten Manggarai, Maksimus Edon, S.Pd juga menjelaskan bahwa pihaknya bermaksud untuk melaporkan kepada pemerintah setempat melalui dinas PPO sebagai lembaga penyelenggara seleksi masuk PPG Kabupaten Manggarai. “Kami telah dicetak oleh pemerintah dan kini telah berada di daerah, siap mengabdi dimanapun di Manggarai, tetapi yang menjadi kendala selama ini adalah tidak punya ruang untuk berekspresi, menerapkan segala pengalaman, kemampuan serta ilmu pendidikan yang telah kami dapat selama mengikuti PPG,” ungkapnya.

Almon Gaut, Koordinator Kecamatan Alumni PPG Paska SM3T mengaku, kecewa dengan pemerintah pusat yang telah mengadakan program tersebut, apalagi telah menghabiskan anggaran negara yang cukup besar, serta diberi gelar sebagai guru profesional, namun pada akhirnya malah tidak diperhatikan atau ditindaklanjuti.

Gaut, meminta kepada pemerintah pusat melalui Dirjen Dikti agar segera memperhatikan nasib mereka. Selain itu agar kedepannya, program CPNS prioritaskan yang lulusan program PPG. Menurutnya, Pemerintah Pusat harus bertanggung terhadap nasib para guru lulusan PPG, sebab Pemda tidak bisa bekerja sendirian, tetapi butuh kebijakan pemerintah pusat, karena itu ia meminta kepada pemerintah pusat agar segera instruksikan kepada pemrintah dearah sehingga lulusan PPG segera diberdayakan.

Kekecewaan yang sama pula dari, Klementina Ifonia Ija Su, S.Pd.Gr, bersama rekan lainnya mengatakan, “Kami tidak meminta lebih dari pemerintah, seperti gaji tinggi atau diperlakukan khusus, tetapi niat kami hanya ingin memajukan pendidikan yang ada, khusunya di Manggarai. Apalagi seleksi PPG itu tidak gampang, harus melalui seleksi nasional, bersaing diantara ribuan perserta namun yang lulus dari manggarai hanya 90 orang saja, karena itu sangat disayangkan jika ilmu pengetahuan yang kami punya tidak ditransfer kepada anak didik atau di tindaklanjuti,” tandasnya.

“Selama ini saya telah melamar ke sekolah-sekolah, tetapi tidak berhasil. Justeru sering mendapat jawaban dari pihak sekolah setempat bahwa pada sekolah tersebut sudah ada guru (guru sudah penuh) padahal jika ditelusuri ternyata masih ada lowongan,” tutur Ija.

Diceritakannya pula, sebelumnya Ia mengajar disalah satu sekolah di Manggarai, tetapi dengan munculnya program PPG, akhirnya mengundurkan diri dari kerja yang ada dengan mengikuti seleksi tersebut, alhasil ia berhasil mengikuti seleksi masuk.

“Ya, kami merasa diterlantarkan oleh pemerintah. Karena itu kami minta kepada pemerintah pusat dan daerah agar segera memperhatikan nasib kami,” ungkap Ija bersama rekannya yang lain dengan penuh kesal.
Terkait program SM3T yang didatangkan dari luar daerah, “Mereka meminta intervensi Pemda agar lebih memperhatikan para lulusan keguruan yang ada didaerah karena diyakini kompetensi pendidikan yang miliki oleh putra putri daerah juga baik. Selain itu lebih mengenal tentang karakteristik wilayah dan dalam rangka mengurangi jumlah pengangguran yang ada.

Mereka berjanji, akan melakukan demo besar-besaran, jika pemerintah pusat dan daerah tetap tidak memperhatikan nasib mereka nantinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish