Site and learn your application

Selasa, 12 Agustus 2014

Mbaru Niang Rumah Adat Wae Rebo

Indo Amaterasu
Mbaru Niang Rumah Adat Wae Rebo
Tidak banyak daerah di Indonesia yang kini masih menjaga rumah tradisional mereka. Wae Rebo merupakan sebuah desa dimana masih tersisa arsitektur asli Manggarai yang masih terjaga dengan baik. Mbaru Niang, rumah adat Manggarai, bangunan ini terdiri dari 5 tingkat yang semua ditutupi atap dan menjadi sebuah kerucut. Di tingkat pertama, lutur, atau tenda adalah tempat tinggal penghuninya. Di tingkat kedua, lobo, atau loteng ialah tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga ialah lentar yang berfungsi menyimpan benih jagung dan tanaman untuk bercocok tanam lainnya. Tingkat keempat ialah lempa rae, yaitu tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang akan sangat berguna saat panen dirasa kurang berhasil. Sedangkan tingkat kelima, hekang kode, yaitu tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.

Sebenarnya, Mbaru niang sudah punah sebelum memasuki awal tahun 70-an saat pemerintah mengkampanyekan perpindahan masyarakat pegunungan ke dataran rendah. Seorang antropolog, Catherine Allerton mengenang pembicaraannya dengan tu’a golo, pemimpin politik dan kepala kampung, juga tu’a gendang, kepala upacara adat. Warga Wae Rebo saat itu tak memutuskan meninggalkan dusunnya. Sudah generasi ke-18 hingga kini Wae Rebo bertahan dari seorang penghuni pertama dan pendiri Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, Empo Maro.

Empo Maro, warga pertama dan pendiri desa mewarisi 7 rumah Mbaru Niang dan hingga saat ini jumlahnya tidak berubah. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di desa ini, beberapa penduduk harus pindah ke desa Kombo, desa baru dengan keturunan nenek moyang yang sama, namun desa yang baru ini kurang memiliki kekhasan dan keaslian dibanding dengan Wae Rebo.

Pada tahun 2012 yang lalu, desa Wae Rebo menerima penghargaan tertinggi (Award of Excellence) UNESCO Asia Pacific Award 2012. Penghargaan ini diumumkan di Bangkok, 27 Agustus yang diperuntukkan bagi proyek konservasi dalam 10 tahun terakhir untuk bangunan tua berusia lebih dari 50 tahun.

Konservasi rumah adat Mbaru Niang, disebutkan UNESCO telah berhasil mengayomi isu konservasi dalam cakupan luas pada tataran lokal. Proyek konservasi rumah adat berbentuk kerucut ini tidak semata mempertahankan keberadaan rumah adat sebagai benda mati, namun sekaligus menjaga keutuhan tradisi setempat.

Membaca mengenai Wae Rebo mungkin akan memancing kita membandingkan dusun terpencil ini dengan kehidupan di Baduy Dalam, Jawa Barat. Kehidupan di dusun terpencil dengan adat istiadat yang masih terjaga, dengan kekeluargaan yang masih kental dan kuat.

Tata letak rumah-rumah di dusun Wae Rebo menggambarkan mereka tidak pernah terlibat peperangan dengan pihak manapun. Inilah yang berbeda dengan kebanyakan sistem desa tradisional di Indonesia yang memiliki pola pertahanan desa. Masyarakat Wae Rebo juga tidak mengenal peralatan persenjataan kecuali alat bercocok tanam. Mereka memilih ?terpencil? untuk lebih dekat dengan alam. Berkunjung ke desa ini serasa seperti berada di dalam mimpi.