Site and learn your application

Kamis, 23 Oktober 2014

Sejarah Wayang Suluh

Indo Amaterasu
Sejarah Wayang Suluh
Nama wayang suluh saat ini sudah tidak terdengar lagi dan tidak banyak orang yang mengetahui tentang wayang ini. Wayang suluh telah berperan untuk menyebarkan semangat kebangsaan dan media perjuangan melawan penjajah Belanda. Kemunculan wayang ini bermula dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejarah wayang suluh bermula dari R.M Sutarto Harjowahono asal Surakarta pada tahun 1920, membuat wayang untuk cerita-cerita biasa yang bersifat realistis. Pada awalnya wayang ini belum digunakan sebagai media perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bentuk wayang suluh seperti manusia yang digambar miring dan diberi pegangannya seperti wayang kulit. Karena pementasannya berdasarkan cerita-cerita zaman sekarang, maka wayang tersebut dapat dikatakan semacam wayang sandiwara, yang kemudian menjadi wayang perjuangan. Bentuk tokoh-tokohnya baik dari segi potongan maupun pakaiannya mirip dengan orang dalam kehidupan sehari-hari.
Pagelaran Wayang Suluh
Pagelaran Wayang Suluh

Pada masa perjuangan kemerdekaan, orang-orang yang termasuk dalam Generasi Baru Angkatan Muda RI dan tergabung dalam Badan Konggres Pemuda RI di Madiun tahun 1947 telah berusaha menciptakan wayang suluh sebagai sumbangan kepada perjuangan pada waktu itu. Wayang Suluh yang diciptakan Badan Kongres Pemuda tersebut telah melepaskan diri dari tradisi wayang-wayang sebelumnya dan cukup representatif untuk memberi penerangan tentang dasar dan tujuan perjuangan Indonesia. Disebut wayang suluh karena fungsi pokok wayang ini lebih ditekankan bagi kepentingan penerangan (sesuluh).
Proses pembuatan Wayang Suluh
Proses pembuatan Wayang Suluh 

Pagelaran wayang suluh dalam rangka perjuangan kemerdekaan pertama kali diselenggarakan pada 10 Maret 1947 bertempat di Gedung Balai rakyat Madiun Jawa Timur, dihadiri oleh wakil-wakil dari partai, badan jawatan, salah satu diantaranya hadir wakil dari Kementrian Penerangan Yogyakarta. Dalam pergelaran tersebut diadakan suatu sayembara pemberian nama jenis wayang baru itu, hasilnya bernama Wayang Suluh seperti sekarang, sebelumnya diberi nama wayang Merdeka.
Proses pembuatan Wayang Suluh 2
Proses pembuatan Wayang Suluh 2

Gambar-gambarnya ada yang menunjukkan tokoh-tokoh pejuang seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, ada pula yang menggambarkan tokoh-tokoh Belanda., Jepang, tentara Gurka dan tentara Pelajar Indonesia, semua dilukiskan persis menurut keadaan sebenarnya. Musik yang digunakan dalam pergelaran wayang suluh bisa berupa gamelan, orkes, atau musik yang sedang digemari oleh masyarakat setempat. Lagu-lagunya ada yang klasik dan ada pula lagu menurut jamannya, misalnya lagu-lagu Selabinta, Pasir Putih, lagu-lagu Mars Pemuda, Sorak-sorak bergembira dan sebagainya.
Pertunjukan Wayang Suluh
Pertunjukan Wayang Suluh

Penyebaran wayang suluh kemudian dilaksanakan oleh berbagai pihak. Pada waktu Dewan Pimpinan Pemuda (DPP) seluruh Jawa dan Madura mengadakan konferensi (tanggal 1 april 1947), membagi 52 set Wayang suluh kepada para wakil DPP. Oleh DPP di masing-masing daerah dan cabang, wayang Suluh terus dikembangkan dan disebarluaskan sebagai alat penerangan dan alat penghibur yang sederhana tetapi dapat menambah wawasan rakyat.
Pertunjukan Wayang Suluh 2
Pertunjukan Wayang Suluh 2

Pada tanggal 2 Nopember 1947 Kementrian Penerangan Pusat telah berusaha untuk mengadakan pegelaran wayang suluh di Bangsal Kepatihan Danurejan Yogyakarta dengan dalang Ki Probohardjono, diiringi gamelan yang dipimpin Ki Wasitadipura atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Tjakra beserta kawan-kawannya. Pergelaran tersebut dihadiri sekiatr 700 orang di antaranya Presiden Sukarno dan para menteri, pejabat dari militer dan sipil serta beberapa ahli kebudayaan. Atas perintah Bung Karno, presiden RI, peristiwa tersebut dikemas dalam sebuah lukisan seniman lukis yang cukup terkenal saat itu, Dullah. Sampai sekarang lukisan pagelaran wayang suluh tersebut masih disimpan di Museum Dullah Solo.

Menurut Ki Probohardjono, sekotak wayang suluh pertama kira-kira 30 buah yang dibuat dan dipakainya di Kepatihan Danurejan Yogyakarta telah dibawa ke Warsawa untuk ditampilkan pada Word International Youth Confference. Oleh karenanya, ia membuat Wayang suluh lagi untuk keperluan pagelaran selanjutnya, ada yang dari kulit, karton, ada pula yang dari tripleks, dan ada yang dari kayu.

Sejak awal perkembangannya, lakon-lakon wayang suluh bukan berasal dari cerita wayang purwa, tetapi sengaja dibuat dari sempalan-sempalan kejadian revolusi. Misalnya, proklamasi 17 Agustus 1945, Sumpah Pemuda, Perang Surabaya 10 November , Naskah Perjanjian Linggar Jati, Perjanjian Renville, Sang Merah Putih dan sebagainya. Oleh karena itu tokoh-tokoh dalam wayang suluh adalah Bung Tomo, Bung karno, Bung Hatta, Sutan Syarhrir, DR Mustopo, Ki Mangunsarkoro, Haji Agus salim, Dr. Sam Ratulangi, Walter Munginsidi, Van Mook, Van der Plas, Jenderal Spoor dan lain-lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish