Site and learn your application

Selasa, 25 November 2014

Gugurnya Dursasana (Versi Jawa)

Indo Amaterasu
Bima nampak gusar dan segera ingin mencari Adipati Karna yang menghilang, tapi ditahan oleh Kresna. Malam itu juga diadakan upacara penghormatan, semua Pandawa, tak ketinggalan Arimbi, ibu Gatotkaca dan Dewi Pergiwa, sang istri, ikut hadir. Bima tak dapat lagi menahan kesedihannya, hilang sudah semua putranya demi kejayaan Pandawa. Sebelum perang Bharatayudha berlangsung, kedua anaknya Antareja dan Antasena telah mengabdikan diri dengan melakukan bela pati. Takdir yang tertulis di kitab Jitapsara menyatakan, bahwa Pandawa tidak akan menang apabila Antasena, Antareja serta putra Arjuna, Bambang Wisanggeni, ikut serta dalam peperangan.
Gugurnya Dursasana (Versi Jawa)

Dengan ini, Kresna meminta kesediaan ketiga ksatria tersebut untuk menjadi tumbal kemenangan Pandawa. Ketiganya menyanggupi dan kemudian moksa. Kini, setelah Gatotkaca meninggal, tak ada lagi yang bisa dibanggakannya. Bima berjalan tak tentu arah. Matahari telah menampakkan sinarnya, perang telah kembali berkecamuk di Kurusetra. Bima terus melangkah, sampai akhirnya, ditengah perjalanan dia bertemu Dursasana. Berada jauh dari padang Kurusetra, Bima dan Dursasana pun bertarung. Bima berpikir, inilah saatnya menuntut balas akan sikap Dursasana kepada kakak iparnya, Drupadi. Dulu, Dursasana telah melecehkan Drupadi sehingga Drupadi bersumpah tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana sebagai bayaran atas rasa malu. Pertarungan sengit tak terelakkan.

Dursasana kewalahan. Kresna yang sedari tadi mencari keberadaan Bima akhirnya menemuinya dalam keadaan bertarung dengan Dursasana. Dengan kesaktiannya, Kresna segera kembali ke pesanggrahan dan membawa Drupadi melihat pertempuran. Ini cara Kresna agar Dursasana lengah dan takut terhadap sumpah Drupadi saat itu. Melihat kehadiran Drupadi, Dursasana pucat pasi. Dengan sekali gerakan, Bima memuntir kepala Dursasana hingga terdengar gemeretak tulang patah. Tak hanya kepala, badan Dursasana juga dipuntir sampai tulang belulangnya patah. Tanpa belas kasihan lagi, Bima merobek badan Dursasana dan menampung darahnya dalam satu cawan. Tubuh Dursasana yang tak lagi berbentuk dilempar jauh-jauh hingga ke tengah medan Kurusetra. Cawan berisi darah Dursasana diserahkan kepada Drupadi untuk membayar sumpahnya. Dengan senang hati, Drupadi menerima pemberian Bima dan segera melunasi sumpahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish