Site and learn your application

Minggu, 18 Oktober 2015

Mengenal Lebih Dalam Internet of Things Untuk Pemula

Indo Amaterasu
Sepertinya, saat ini sedang ramai dibicarakan topik Internet of Things (IoT). Sebelum kita membahas lebih dalam, ada baiknya kita melihar definisi Internet of Things (IoT) yang merujuk pada Wikipedia. Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut:

“Internet of Things (IOT) adalah jaringan benda-benda fisik atau ‘things’ yang tertanam (embedded) dalam perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, dan konektivitas untuk memungkinkannya mencapai nilai dan layanan yang lebih besar, dengan cara bertukar data dengan produsen, operator dan/atau perangkat lain yang terhubung. Setiap objek dalam IoT bukan saja bisa diidentifikasi secara unik via sistem komputasi tertanamnya (embedded) tetapi juga mampu beroperasi dalam infrastruktur internet yang ada.”
Mengenal Lebih Dalam Internet of Things Untuk Pemula

Istilah “Internet of Things” pertama kali diperkenalkan oleh seorang Inggris, Kevin Ashton, pada tahun 1999. Biasanya, IoT diharapkan menawarkan konektivitas canggih perangkat, sistem, dan jasa yang melampaui mesin-ke-mesin komunikasi (M2M) dan mencakup berbagai protokol, domain, dan aplikasi. Interkoneksi perangkat embedded ini (termasuk perangkat-perangkat pintar) diharapkan dapat mengantarkan otomatisasi dalam hampir semua bidang, selain memungkinkan penerapan canggih seperti Smart Grid.

“Things”, di IoT, merujuk ke berbagai perangkat seperti pencangkokan pemantau jantung, transponder biochip pada hewan ternak, kerang listrik di perairan pantai, mobil dengan sensor built-in, atau perangkat operasi lapangan yang membantu petugas pemadam kebakaran dalam aktivitas pencarian dan penyelamatan.

Perangkat ini mengumpulkan data yang berguna dengan bantuan berbagai teknologi yang ada dan kemudian secara mandiri mengalirkan data antara perangkat lain. Contoh pasar saat ini mencakup sistem cerdas termostat dan mesin cuci/pengering yang memanfaatkan Wi-Fi untuk pemantauan jarak jauh.

Selain memiliki sejumlah penerapan yang bisa diperluas, IoT juga diperkirakan akan menghasilkan sejumlah besar data dari lokasi yang beragam yang dikumpulkan dengan sangat cepat, sehingga meningkatkan kebutuhan aktivitas pengindeksan, penyimpanan, dan pengolahan data tersebut secara lebih baik.

Internet of Things Untuk Pemula (IOT)
Secara sederhana Internet of Things dapat dilihat sebagai (1) peralatan microcontroller/embedded, yang (2) tersambung ke berbagai sensor, yang (3) memiliki sambungan jaringan Internet ke (4) sebuah server/database yang akan mengumpulkan data-data dari sensor. Jadi secara umum kita akan melihat empat komponen dari sebuah IoT.

Seperti dijelaskan di atas, kita dapat menggunakan IoT ini untuk melakukan pengumpulan data, misalnya, memantau jantung yang dicangkokan, mengukur suhu/cuaca, mengukur listrik PLN (SmartGrid), dan masih banyak lagi.

Kita yang masih pemula juga dapat mendalami dunia IoT ini. Kita dapat menggunakan komponen embedded untuk merealisasikan IoT ini. Beberapa peralatan embedded yang mungkin digunakan dengan mudah bagi pemula adalah Arduino, Raspberry Pi dan Intel Galileo.
Arduino merupakan sistem yang cukup familiar bagi yang sering melakukan ekseperimen di dunia otomasi dan robot. Arduino memiliki kemampuan untuk menerima sensor analog maupun switch. Arduino memiliki fasilitas tambahan untuk disambungkan ke jaringan internet. Harga Arduino learning kit sendiri sekitar 500 ribuan rupiah.

Sementara Raspberry Pi awalnya dirancang untuk edukasi komputer anak-anak SD. Raspberry Pi lebih mudah dioperasikan, dan bisa dihubungkan ke jaringan bahkan bisa berfungsi sebagai server. Pasalnya, produk ini dilengkapi dengan fasilitas LAN dan port USB. Pilihan sistem operasi berbasis Linux untuk Raspberry Pi cukup banyak tersedia di internet dan dapat diambil secara gratis.
Bagi yang ingin menggabungkan Arduino dan Raspberry Pi, hal tersebut dapat dilakukan menggunakan kabel header antara Arduino dan Raspberry Pi. Harga Raspberry Pi sendiri sekitar 500 ribuan rupiah.

Terakhir adalah Intel Galileo yang merupakan “turunan” Arduino akan tetapi menggunakan prosesor Intel Pentium sehingga sebetulnya merupakan komputer untuk aplikasi embedded. Di motherboard-nya, terdapat sambungan untuk sensor analog maupun switch digital, lengkap dengan colokan LAN untuk tersambung ke internet. Akibatnya Intel Galileo menjadi sebuah platform yang sangat powerful (mungkin terlalu powerful) untuk sensor aplikasi IoT. Harganya sendiri sedikit di atas satu juta rupiah.

Untuk “merasakan” kondisi di luar microcontroller ini, kita perlu menambahkan berbagai sensor. Saat ini cukup banyak situs lokal di Indonesia yang menawarkan berbagai sensor ini, seperti Famosastudio, Jualarduinomurah, Geraicerdas, Iseerobot, Jack-electronics, selain yang melalui jalur konvensional seperti OK di Glodok Lindeteves Jakarta .

Yang menjadi masalah adalah sambungan ke internet dari peralatan microcontroller/komputer embedded ini. Jika kita beruntung, ada kabel LAN agak lumayan. Hal ini dibutuhkan jika sensor ini ingin diletakkan di luar tanpa sambungan internet. Alternatifnya, kita terpaksa harus mengakali agar USB 3G modem dapat disambungkan ke peralatan ini. Untuk Raspberry Pi, hal ini cukup mudah dilakukan karena kita pada dasarnya menggunakan sistem operasi Linux di Raspberry Pi tersebut.
Terakhir, server yang menerima aneka data masukan dari IoT melalui internet, pada dasarnya harus dapat mem-parsing message yang masuk dari IoT tersebut dan memasukannya ke data base, biasanya menggunakan MySQL/Percona atau SQL server lainnya. Lalu, hasil pengolahan ini kemudian dipanggil/diproses untuk bisa ditampilkan ke layar web menggunakan PHP atau bahasa pemrograman lainnya.

Pemanfaatan Internet of Things 
Dengan kemampuan yang demikian unik, khususnya untuk di Indonesia, Internet of Things menjadi menarik untuk melakukan pemantauan pada saat terjadinya bencana alam, memantau keamanan rumah/apartemen/kompleks perkantoran, dan lain-lain.

Contoh yang menarik dari Internet of Things (walaupun tidak sepernuhnya menggunakan Internet) adalah teknologi Amatir Packet Reporting System (APRS) yang dikembangkan oleh para anggota ORARI. Sebagian dari sambungan yang digunakan menggunakan sambungan radio seperti walkie talkie.

Kita bisa melihat dari dekat aktivitas teman-teman radio amatir ini di situs http://aprs.fi. Jika kita mengeklik situs tersebut, akan tampil peta Jakarta dan node radio amatir yang ada di Jakarta yang tersambung ke APRS. Sebagian hanya menampilkan posisi GPS saja, sebagian akan menampilkan kondisi cuaca (suhu, arah, kecepatan angin, dan curah hujan), dan sebagian lagi membawa peralatan APRS ini di mobil mereka sehingga kita bisa melihat posisinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish